Mengenal Koefisien Gesek

OTOMOTIFNET - Banyak faktor pada sebuah kendaraan, baik motor atau pun mobil yang kerap kali dilupakan. Salah satunya, koefisien gesek pada beberapa komponen. “Misalkan pada kampas rem atau pada kopling,” tutur Taqwa Suryo Swasono, dari Garden Speed, Rempoa, Tangerang, Banten.  Memangnya kenapa, sih?

BEDA MEREK


Gbr 1

Menurut lelaki berambut keriting itu, koefisien gesek pasti terjadi pada komponen yang bersinggungan satu sama lain. Kalau soal ini sih, banyak bukan komponen jeroan motor yang terlibat? Seperti piston, gigi-gigi dalam girboks, serta komponen lain seperti kampas kopling dan rem.

Nah, soal piston dan gigi-gigi dalam girboks sih sudah ditangani oleh pelumas yang membantu mengurangi gesekan dan membuat pergerakan komponen semakin lancar. Namun ada hal lain yang masih bergesekan dan bisa diatur oleh penggunanya, seperti kampas kopling.

“Tak heran kalau beberapa pengguna motor merasa kampas kopling merek A digunakan pada motor merek B akan terasa enak,” tuturnya. Itu karena koefisien geseknya berbeda. “Bisa dari kandungan dalam kampasnya, seperti berapa banyak metalnya, berapa banyak asbesnya atau bahan lainnya,” kata Taqwa.


Gbr. 2

Kian besar koefisien geseknya, tentu kopling akan kian mencengkeram, Nah, begitu pula soal penggunaan pelumas mobil pada motor dengan tipe kopling wet sump atau kopling basah seperti umumnya motor yang dipasarkan di Tanah Air.

“Pada oli mobil (gbr.1) meski SAE-nya sama, terdapat bahan-bahan yang bisa mengurangi koefisien gesek kampas kopling motor,” ujarnya. Alhasil, lari motor bakal menurun kemampuannya, gara-gara koplingnya terlalu slip.

Memang, pada kopling standar, masih ada toleransi slip pada koplingnya. “Itulah koefisien geseknya, diatur agar kopling masih sedikit slip,” ujar mekanik pembuat beberapa motor balap itu.


Gbr.3

Tujuannya tak lebih untuk kenyamanan, tentu kalau friksi baik alias cengkeraman kopling terlalu kuat akan membuat pengendaranya merasa tidak nyaman untuk penggunaan sehari-hari. Motor jadi jedak-jeduk, tak melaju dengan halus.

Nah, dari kondisi inilah, ketika yang diinginkan adalah performa akselerasi yang lebih baik, banyak orang mengakali dengan menggunakan per kopling lebih keras (gbr.2), agar kampas kopling tambah mencengkeram, sehingga koefisien geseknya makin bertambah.

Selain kampas, tentu pelat kopling juga perlu mendapat perhatian. “Agar tarikan lebih baik, pelat kopling pun perlu diperhatikan koefisien geseknya, meski penentu utama sih masih pada kampas kopling (gbr.3) dan pernya,” tutupnya.

sumber

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: